Ubhara Jaya- Terorisme menjadi kata yang paling ditakuti semua orang di dunia terutama semenjak serangan WTC pada September 2001 silam. Tujuh belas tahun berlalu, teror masih saja menghantui kehidupan masyarakat, bahkan mengalami metamorfosis dalam bentuk wajah-wajah baru. Ledakan bom bunuh diri di 3 Gereja di Surabaya Mei silam adalah bukti bagaimana motif dan tindakan teorisme di tanah air berubah .

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap sikap pemerintah dalam melawan aksi terorisme, Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menghelat seminar internasional dengan bahasan wajah terorisme kontemporer serta strategi penanggulangannya, Kamis (27/9) di Auditorium Graha Tanoto, Kampus II Bekasi. Kapolri Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A. Ph.D hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar yang juga menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pengamat, aktivis anti terorisme dan akademisi  lintas negara yaitu Singapura dan Filipina dan Australia,.

Mengawali seminar, Rektor Ubhara Jaya, Inspektur Jenderal Polisi (P) Dr.H.Bambang Karsono, SH., MM mengulas dua petunjuk arah dalam memahami terorisme internasional di era sekarang yakni formalisasi gerakan terorisme dengan kelahiran ISIS dan gerakan  Global Jihad serta transformasi gerakan teror dengan model Lone Wolf  setelah kehancuran ISIS di Irak-Suriah.               “Dengan situasi baru dinamika terorisme saat ini, strategi penanganan kejahatan terorisme harus dinamis mengikuti pengembangan terorisme sendiri”, ungkap Rektor. Permasalahan keamanan dan sektor pertahanan, kata Rektor, memerlukan partisipasi semua pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi. Maka itu, Ubhara Jaya melalui Puskamnas terus bertekad dalam mengawal bidang keamanan. Bantuknya antara lain dengan menggenjot penelitian dan jurnal ilmiah dalam bidang keamanan, termasuk di antaranya menyelenggarakan  Sekolah Keamanan Nasional untuk umum.

Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A. Ph.D pun mengapresiasi komitmen Puskamnas dan Ubahra Jaya. Senada dengan Rektor, dinamika terorisme kontemporer pasca hancurnya kekuatan ISIS di Irak-Suriah, kata Tito, lahir modus dan motif baru. “ Dengan perubahan situasi tersebut diperlukan strategi yang adaptif dalam menaggulangi kejahatan terorisme.”

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi terorisme, yakni keras (hard approach) dan lembut (soft approach). ”Untuk cara keras, Polri dibantu oleh TNI dan intelijen. Pendekatan hard approach, “kata Tito. Cara ini umumnya dilakukan dengan mendorong aparat penegak hukum dan TNI untuk melaksanakan penegakan hukum secara transparan dan profesional.               “Sedangkan soft approach (lembut) dilaksanakan oleh BNPT salah satunya menangani jaringan atau sistem internet yang digunakan kelompok teroris. “ Untuk program deradikalisasi, lanjut  Tito, akan dilakukan kepada pelaku aksi teror,keluarga dan simpatisan. Sementara untuk program kontra radikalisasi, akan dilakukan kepada masyarakat umum untuk meningkatkan daya tangkal terhadap paham radikal terorisme.               Tito melanjutkan, langkah yang baik untuk membasmi terorisme di Indonesia yakni dengan penegakan hukum yang kuat. “Penegakan hukum (yang) harus dilakukan ada empat syarat, kemampuan deteksi aparat yang kuat, kemampuan pengananan penyelidikan secara ilmiah, aparat memiliki kemampuan menyerang di segala medan, serta adanya undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme yang memadai dalam penegakan hukum  .

Usai Tito, acara diramaikan dengan diskusi yang melibatkan berbagai narasumber ahli yang terbagi jadi dua sesi. Sesi pertama dengan topik Lesson learned Thus Faron Contemporary Counter Terrorism,” diisi oleh pemaparan Profesor Studi Keamanan dari The S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technology University, Singapura, Deputi III Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penaggulangan Terorisme  (BNPT), Irjen Pol. Drs. H. Hamidin, dan Resident Legal Advisor, U.S Departement of Justice, Jared C. Kimball.

Sementara sesi kedua dengan topik “Envisioning democratic counter-terrorism practices to come” menghadirkan Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya,  Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D., Ahli terorisme dari College of Criminal Justice Education, University of Mindanao, Davao, Philipines Nestor Nabe, Ph.D, dan Ms. Keara Shaw dari Kedutaan Australia. Tepuk tangan meriah peserta seminar menandai berakhirnya seminar yang dihadiri 750 orang dari berbagai lapisan masyarakat, baik mahasiswa, akademisi, aktivis dan pemerhati terorisme. Setelah seminar ini, Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D berjanji untuk terus mengibarkan panji-panji anti terorisme melalui kegiatan-kegiatan yang positif melalui bendera Puskamnas  Ubhara Jaya.

 

Tim Media Ubhara Jaya