Ubhara Jaya-Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya, Jaya Irjen Pol. (Purn) Dr. H. Bambang Karsono, Drs., SH., MM dan Prof. Dr. Ir. I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, M.Sc Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM) Migas, Rabu (28/11)  menandatangani MoU terkait peningkatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pelaksanaan kerja sama Ubhara Jaya dan PPSDM Migas sebenarnya sudah dirintis sejak tiga tahun lalu dan berjalan hingga saat ini, Salah Satu diantaranya praktikum Program Studi Teknik Perminyakan di Cepu. Prodi Teknik Kimia Ubhara Jaya berdiri pada 2014 dengan visi Pada tahun 2022 menjadi Program Studi Teknik Kimia yang unggul di tingkat nasional, dibidang rekayasa dan teknologi bahan maju yang berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti. Rencananya, kerjasama akan diperluas melalui serangkaian program yang menunjang bidang Tri Dharma Perguran Tinggi seperti sertifikasi kompetensi keahlian perminyakan dan program pelatihan baik nasional maupun internasional.

Penandatanganan naskah kerjasama dilakukan di Jakarta berbarengan dengan acara Focus Group Discussion (FGD)” Peningkatan Kompetensi Lulusan Pendidikan Vokasi melalui Kompetensi di Bidang Minyak dan Gas Bumi  dalam rangka Link dan Match. “   FGD yang melibatkan akademisi dan praktisi Migas Nasional ini juga dihadiri Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D,  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Akademisi  dan Praktisi di Bidang Perminyakan. Kepada peserta FG yang hadir, Wakil Menteri Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D,  menegaskan, Revolusi 4.0 harus ditujukan untuk mempermudah pekerjaan manusia, bukan mematikan pekerjaan manusia seperti yang banyak dikuatirkan banyak pihak. Tantangan ke depan adalah meningkatkan kompetensi Tenaga Kerja di Indonesia, khususnya dalam bidang ESDM, Arcandra lalu mencontohkan strategi yang dilakukan Amerika. “Dispilin people, thought and action merupakan dasar dari pengembangan industri yang menopang Amerika. Konsep link and match untuk yang dipekerjakan bagi mid dan upper,untuk menengah ke bawah harus diproteksi asing tapi untuk keahlian atas maka bisa disesuaikan dengan kebutuhan.”

Tantangan dalam revolusi 4.0 adalah supaya energi tidak hanya berbasis ke ekstraktif tetapi juga berbasis tehnologi dengan membuka diri terhadap kemampuan adaptif ujar Wamen sembari menutup keynote speech-nya.

Tim Media Ubhara Jaya