Bekasi -Prestasi kembali diukir oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP P-1) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) yang sukses menambah 18 skema baru juga jumlah asesor kompetensinya. Dengan demikian, saat ini sudah 28 Skema dan 67 Asesor Kompetensi yang dimiliki LSP P-1 Ubhara Jaya. Hal ini disampaikan dalam Laporan Kinerja LSP-P1 Ubhara Jaya tahun 2020 dan Rencana Kerja tahun 2021 yang disampaikan oleh Ketua LSP-P1 Ubhara Jaya, Drs. Sugiyanto., MBA., Ph.D dalam acara Penyerahan SK Verifikasi Skema Profesi dan Asesor Kompetensi yang dihadiri langsung oleh Ketua BNSP, Kunjung Masehat, SH, MM., dan Ketua Dewan Pengarah LSP P-1 Ubhara Jaya, yang juga Rektor Ubhara Jaya, Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Dr. Drs. Bambang Karsono, SH., M.M, di Auditorium Ubhara Jaya, Grha Tanoto, Rabu Pagi (27/01/2021).

“Asesor yang berasal dari dosen di Ubhara Jaya, nantinya akan mendukung ujian kompetensi bagi lulusan Ubhara Jaya. Sertifikat kompetensi yang diberikan kepada alumni akan menjadi bukti kompetensi dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah atau SKPI, yang dapat memperkuat keyakinan diri para alumni untuk masuk ke dunia usaha dan Industri,” papar Sugiyanto selaku Ketua LSP-P1 Ubhara Jaya mengawali laporannya.

LSP P-1 Ubhara Jaya adalah lembaga sertifikasi profesi tingkat perguruan tinggi yang sudah memperoleh lisensi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan mengeluarkan sertifikat kompetensi bagi para lulusan Ubhara Jaya. Keberadaan Sertifikat kompetensi menjadi bukti kompetensi seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, berbasis pada standar kompetensi yang telah disepakati dan ditetapkan. Dengan bekal tersebut, kendudukan alumni akan punya poin yang lebih demi memasuki dunia kerja dan usaha.

Rektor Ubhara Jaya, Inspektur Jenderal Polisi (Purn), Dr. Bambang Karsono, SH., M.M mengatakan, “Sejak 25 Februari 2019 LSP Ubhara Jaya sudah melaksanakan 10 skema awal dengan 22 asesor. Saat ini LSP P1 kita terus melesat menjadi 28 skema dan 67 asesor. Ini adalah sebuah proses tak henti, yang menjadi bagian upaya kita mewujudkan Ubhara Jaya sebagai perguruan tinggi unggul.”

Rektor menjelaskan 28 skema yang sudah dimiliki oleh LSP Ubhara Jaya  saat ini, terdiri dari 10 Skema yang sudah dijalankan sejak awal berdirinya LSP Ubhara Jaya di tahun 2019, yang meliputi: Tenaga Pemasar Operasional Pemasaran, Teknisi  Akuntansi  Ahli, Manajer Sumber Daya Manusia, Petugas Penanganan Bahaya Gas H2s, Pemrograman Basis Data, Network Administrator Madya, Ahli K3 Muda, Ahli K3 Madya, Ahli Fluida Pengeboran Migas dan Bumi, dan Humas Junior. 

Sementara 18 skema baru di tahun 2020 yang sudah ditetapkan oleh BNSP meliputi skema Human Resources Planning Staff, Training and Development Staff, Human Resources Supervisor, Human Resources Admin Specialist, Analis Muda Hubungan Industrial, Public Relation Officer, Analis Madya Hubungan Industrial, Analis Utama Hubungan Industrial, Manajer Proyek TIK (ICT Project Manager), Junior Web Developer, Pengendalian Kualitas Sistem Manufaktur, Asisten Produser Televisi, Desainer Grafis, Fotografer Madya, Teknisi Perpajakan Pajak Penghasilan 21, Kewirausahaan Industri, Pemandu Acara dan Cyber Security Analyst. 

“LSP P-1 Ubhara Jaya sampai saat ini telah berhasil melaksanakan program sertifikasi dengan capaian jumlah peserta uji 1, 589 dan dinyatakan kompeten sebanyak 1,151 alumni. Hal ini sejalan dengan Visi Universitas untuk menjadi universitas unggulan di tingkat nasional yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing, juga sebagai wujud dukungan terhadap program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka yang saat ini menjadi kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Kita ingin lulusan kita nantinya dapat memenuhi kebutuhan industri, lapangan kerja dan kebutuhan masyarakat dengan sertifikat kompetensi yang dimilikinya,” tegas Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Dalam arahannya, Ketua BNSP, Kunjung Masehat. S.H., M.M, mengatakan dengan melihat kondisi dunia kerja saat ini, kebijakan yang dilakukan oleh BNSP ini adalah dengan melakukan pendekatan “Demand Driven”. “Kebijakan ini dilakukan dengan melihat kondisi ketenagakerjaan kita saat ini, masih ada skill mismatch antara kebutuhan industri dengan keahlian yang dimiliki oleh tenaga kerja. Ini terjadi karena perhatian kita terhadap kebutuhan industri belum dilakukan dengan baik. Kalau kita bicara kondisi ketenagakerjaan sejak industri 4.0 diterapkan, banyak pekerjaan yang hilang, tapi banyak juga pekerjaan yang tumbuh. Oleh karena itu, saat ini sangat penting bagi kita melakukan pendekatan terhadap kebutuhan industri dan dunia kerja. Apakah kurikulum kita match dengan kebutuhan industri,” jelas Ketua BNSP.

Ke depan menurutnya dengan pendekatan baru ini, maka akan menjawab apa yang dibutuhkan oleh dunia industri atau lapangan kerja terkait dengan kompetensi tenaga kerja. Bagaimana perkembangan industri bisa diisi oleh lulusan perguruan tinggi,

Acara ditutup dengan penyerahan SK Verifikasi 18 Skema Baru dari Ketua BNSP kepada Ketua Dewan Pengarah LSP P-1, dan diserahkan ke Ketua LSP UBJ, lalu Penyerahan Sertifikat Asesor Kompetensi kepada 18 Asesor yang mewakili 43 Asesor Baru dari Ketua BNSP melalui Ketua Dewan Pengarah LSP P-1 UBJ, serta Pemberian Kemeja Asesor kepada Asesor LSP UBJ oleh Ketua Dewan Pengarah LSP P-1 Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Tim Media dan Publikasi